No More Right Target
SELAMAT DATANG

Rabu, 22 Desember 2010

ANTROPOLOGI PSK

. Rabu, 22 Desember 2010
2 comments

Pengantar
Sebuah fenomena yang terus berkembang dan tak pernah terselesaikan dari masa ke masa dari suatu negeri ke negeri yang lainnya dari sebuah ruang dan waktu, ada yang bilang ini adalah pekerjaan yang seharusnya tidak ada dan ada yang mengatakan mungkin itu jalan terakhir yang harus ditempuh. Fenomena itu adalah wanita panggilan/ perek/ pelacur dan masih banyak lagi sebutan lain untuk pekerjaan itu yang pada perkembangan selanjutnya dihaluskan menjadi wanita tuna susila dan diperhalus lagi menjadi Pekerja Sexs Komeresil (PSK).
Kebudayaan adalah tenunan makna, dan dengan tenunan itu manusia menafsirkan pengalaman mereka dan mengarahkan tindakan mereka (Geertz,1993;74). Bertolak dari defenisi diatas dapat kita lihat bagaimana PSK mencoba menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Perkembangan PSK dari masa ke masa
PSK Pada masa kerajaan / tradisional
Pada zaman kerajaan dapat kita temukan selir, dimana mereka disahkan oleh pihak kerajaan bahkan itu merupakan sebuah pertanda bagi seorang raja bahwa ia sangat dihormati dan disayangi oleh rakyatnya walaupun pada akhirnya itu mengakibatkan perpecahan dalam kerajaan sendiri dan akhirnya dilarang dan dikeluarkan sebuah keputusan raja hanya boleh berhubungan dengan istrinya yang sah atau yang telah ia nikahi.
Seiring dengan perkembangan zaman dan selir itu berobah menjadi Pelacur dan tugasnya tidak hanya melayani para raja dan petinggi kerajaan tetapi juga orang banyak dimana mereka mulai teroganisir dalam sebuah tempat yang dinamakan rumah bordil. Mereka memiliki cukong dan bekerja berdasarkan perintah seorang cukong, dengan bayaran yang ditentukan oleh cukong itu sendiri karena yang mengkonsumsi pelacur ini layaknya sebuah obat yang membuat seseorang ketagihan sehingga terjadi konflik di dalam masyarakat baik antara konsumen sampai pada konflik keluarga dan akhirnya praktek yang seperti itu dihapuskan dan dilarang oleh pihak kerajaan sehingga berbagai rumah bordir ditutup dan dinyatakan ilegal. Dengan dinyatakan ilegal maka para wanita penghibur itu agar dapat bertahan dan tetap menjadi salah satu kebutuhan laki-laki, mereka membuka warung misalnya warung kopi dan mereka akhirnya dapat terus beroperasi walau dengan sangat extra hati-hati agar tidak terbongkar apa yang sebenarnya mereka perdagangkan, walaupun pintarnya mereka menyamarkan tujuan mereka namun kontrol masyarakat tetap ada dan terus mengawasi.



Zaman Pencerahan dan Zaman Victoria
Mungkin sedikit berbeda dengan masa kerajaan, pada zaman pencerahan tidak ada yang menjadi selir yang ada hanya wanita penghibur pada masa itu wanita penghibur memiliki status sosial dalam masyarakatnya mereka diakui keberadaannya. Bahkan pada saat-saat tertentu mereka memegang peranan penting dalam berhasilnya sebuah daerah mengembangkan daerah kekuasaan mereka. Proses adaptasinya disini kami jelaskan dengan zaman pencerahan, dimana para wanita penghibur dipekerjakan untuk menjadi pemuas hasrat para petinggi negara, mereka tinggal dirumah mereka selayaknya masyarakat lainnya. Dan yang uniknya pada masa itu wanita penghibur merupakan keturunan dan setiap orang tua mempersiapkan anak-anak mereka untuk menjadi wanita penghibur yang propesional, membekali anak-anaknya dengan pengetahuan bagaimana menjadi wanita penghibur yang hebat dan ilmu pengetahuan lainnya politik bahkan psikologi.
Setiap para petinggi butuh, mereka tinggal pergi kesana atau meminta para wanita penghibur tersebut untuk datang kerumah mereka. Namun hal ini tak berlansung lama, masyarakat banyak yang memiliki uangpun akhirnya mengikuti pola hidup para petinggi mereka, mereka mulai mengkonsumsi wanita penghibur sebagai salah satu kebutuhan mereka. Sama halnya pada masa kerajaan, hal ini mengakibatkan berbagai konflik dalam masyarakat itu sendiri dan pada akhirnya ditentang dan dibubarkan oleh mereka sendiri. Namun fenomena ini terus berlanjut layaknya bom waktu yang dapat meledak kapan saja dan dibagian bumi mana saja.
Zaman modern
Pada saat sekarang PSK bukan sekedar pedagang yang mengandalkan barang bagus yang menarik pembeli, PSK sudah mulai mempelajari bagaimana situasi, kondisi mereka sendiri dan juga mulai mencari celah untuk menjadikan barang dagangan mereka tetap dibutuhkan konsumen. Mereka mulai mempelajari psikologis konsumen dan bekerja propesional (layaknya produsen yang mempelajari kebutuhan konsumennya). Waktu terus berjalan dan permintaan pasar mulai berobah, barang bagus harga standar. PSK tidak hanya digeluti oleh pemain lama yang hanya mengantungkan hidup dari itu saja , berbagai orang dari berbagai profesi juga mulai mengeluti pekerjaan ini, seperti yang diberitakan oleh tabloid Genta Andalas terbitan Unand yang memberitakan bahwa ada mahasiswa yang juga terlibat dalam dunia PSK ini. Dari berita itu dapat kita lihat bahwa mahasiswi juga mulai bergelut dalam dunia seperti itu.
Dari ilustrasi dan data diatas dapat kita lihat para PSK zaman sekarang mempelajari kembali sejarah mereka dan mengadopsi cara-cara lama yang pernah jaya pada masa lalu. Dan dari data diatas juga terasa sekali kontrol masyarakat mulai kehilangan arah karena PSK mulai membentuk pola-pola baru dan sulit untuk dijangkau oleh kontrol sosial masyarakat.

VONY PONOLIA
081374403496

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 17 Desember 2010

HAMPIR SETAHUN VACUUM

. Jumat, 17 Desember 2010
0 comments

MAU NULIS LAGI TAPI BLOM ADA WAKTU

Klik disini untuk melanjutkan »»

Senin, 09 Maret 2009

ANTROPOLOGI POLITIK

. Senin, 09 Maret 2009
7 comments

Politisi dan Korupsi

Permasalahan terbesar dinegeri ini adalah permasalahan korupsi yang juga nota bene salah satu dari agenda reformasi yang diusung oleh mahasiswa, berakhir dengan jatuhnya rezim Soeharto. kalau kita beranjak dari pendapat koentjraningrat tentang kebudayaan sebagai suatu idea / gagasan yang terwujud menjadi suatu sistem sosial / tindakan terpola dari manusia yang terlihat pada aktifitas manusia. Maka kasus korupsi di Indonesia sudah bisa dikatakan sebagai ‘budaya’. Korupsi di Indonesia telah terjadi pada masa penjajahan (perusahaan VOC), sesudah kemerdekaan di era Orde Lama, Orde Baru, berlanjut hingga era Reformasi, permasalahan ini tidak juga bisa dituntaskan seratus persen. Berbagai upaya sebenarnya telah banyak dilakukan untuk memberantas korupsi, namun hasilnya masih belum sepenuhnya berhasil. Pada saat ini kepemimpinan Kabinet Indonesia Bersatu korupsi masih menjadi masalah besar, meskipun telah mendapat jaminan untuk diberantas oleh SBY sebagai presiden praktek korupsi tetap berlangsung dan semakin parah (canggih).

System politik yang diterapkan oleh Indonesia menganut sistem ‘trias politica’ yang mengenal tiga unsur yaitu legilatif, eksekutif dan yudikatif. Dalam hal ini ketiga unsur tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh dan menyeluruh, seperti presiden dengan kabinetnya, DPR, BPK, MA dan Kejaksaan Agung. Sistem politik yang diterapkan di Indonesia sekarang sebenarnya telah sangat baik. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, lembaga-lembaga yang terdapat dalam ketiga unsur tersebut tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Perangkat hukum yang dibuat untuk pemberantasan tindak pidana korupsi dan juga lembaga kontrol pemerintah juga tersandung masalah korupsi. Terbongkarnya skandal Urip-Artalyta pada Maret lalu merupakan salah satu bukti nyata carut marutnya praktek dari sistem politik yang kita pakai.

Belakangan kasus-kasus korupsi merebak di DPR RI dan sejumlah DPRD di Indonesia, sampai pada bulan maret ini telah tercatat 10 kasus korupsi di gedung bundar senayan yang ditokohkan oleh satria-satria dari partai-partai besar.

* H. Saleh Djasit (Golkar) : kasus pengadaan Damkar
* Hamka Yandhu (Golkar) : kasus aliran dana BI
* Agus Condro (PDI-P) : kasus uang gratifikasi BI
* Sarjan Taher (Partai Demokrat) : kasus alih fungsi hutan
* Al-Amin Nasution (PPP) : kasus alih fungsi hutan
* Yusuf Emir Faishal (PKB) : kasus alih fungsi hutan
* Bulyan Royan (PBR) : kasus pengadaan kapal Dephub
* Antony Zeidra Abidin (Golkar) : kasus aliran dana BI
* Adiwarsita Adinegoro (Golkar) : kasus dana kehutanan
* Abdul Hadi (PAN) : kasus korupsi pembangunan daerah tertinggal

Di tengah tuntutan masyarakat yang menghendaki adanya pemberantasan tindak pidana korupsi, seharusnya para anggota dewanlah yang berdiri di barisan depan dalam pemberantasan korupsi. Tetapi kenyataannya justru sebaliknya, malah anggota dewan berperan sebagai aktor-aktor handal tindak pidana korupsi. Salah satu bukti lain kurangnya ketertarikan anggota dewan dalam penyelesaian masalah korupsi adalah belum terselesaikannya pembahasan RUU Pengadilan Tipikor atau bisa dibilang masih terbengkalai. Agung Laksono pun sebagai ketua DPR RI hanya bisa berharap Pansus RUU Pengadilan Tipikor bisa menyelesaikan pembahasan RUU tersebut sebelum masa jabatan DPR berakhir. "Saya berharap semoga sebelum Oktober 2009 sudah selesai,"

Tindak pidana korupsi tidak hanya melanda DPR RI saja, DPRD di Indonesia secara umum mempunyai rapor buruk tentang tindak pidana korupsi. Tidak jauh berbeda dengan DPR RI, anggota DPRD propinsi dan kab/kota juga terjerat permasalahan korupsi yang dilakukan baik secara individual ataupun berjamaah. Salah satu bukti banyaknya kasus korupsi di kalangan anggota DPRD adalah banyaknya dugaan kasus dan perkara-perkara tindak pidana korupsi yang di usut Sejumlah kejaksaan negeri di indonesia terkait dengan kasus dugaan korupsi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, juga kasus penyelewengan ataupun suap dana proyek pemerintahan.

Menyikapi banyaknya permasalahan-permasalahan yang ada pada masa sebelumnya, dan jika diselaraskan dengan kondisi perpolitikan Indonesia pada masa sekarang ini. Seharusnya kita sebagai masyarakat dapat menyikapi fenomena korupsi tersebut baik sebagai pemilih yang akan menyalurkan aspirasi ataupun sebagai calon legislatif yang akan dipilih rakyat. Dalam suasana pemilihan legislatif yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 april 2009 ini. kita melihat banyak sekali alat sosialisasi calon yang berupa gambar-gambar para calon legislatif yang terpajang di pinggir-pinggir jalan maupun pada di pusat-pusat keramaian yang lengkap dengan visi dan misi yang akan mereka usung ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Namun sebagian besar alat sosialisasi para calon anggota legislatif hanya sedikit yang menyikapi permasalahan tindak pidana korupsi. Visi dan misi para calon legislatif terlihat hanya menyikapi masalah pembangunan yang merupakan suatu isu yang pasti dan harus mereka bahas. selain itu alat alat sosialisasi para calon angota legislatif banyak mengedepankan sikap Etnosentrisme ”salah satu istilah yang dipakai dalam ilmu Sosial yang berarti sifat yang mengedepankan paham kesukuan”. hal ini terlihat pada slogan-slogan pada alat-alat sosialisasi seperti kalimat kalimat asli anak nagari A, anak nagari luak B, pencantuman gelar kesukuan ataupun kebangsawananya dan melupakan pemilu sebagai perhelatan semua lapisan dan golongan masyarakat.

Korupsi sebagai isu-isu yang akan menghambat pembangunan sepertinya tidak banyak terpikirkan sebagai permasalahan yang sangat krusial. kita mengetahui salah satu masalah besar yang menghambat pembangunan adalah korupsi yang dilakukan anggota legislatif yang selalu terkait dengan penyelewengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan proyek-proyek pemerintahan lainnya. Sedikitnya para caleg yang mempunyai visi dan misi dan menyikapi masalah korupsi sebagai salah satu masalah yang akan menghambat pembangunan, disini kita bisa menerka dan meramal tidak ada jaminan gedung dewan terlepas dari permasalahan korupsi, kebanyakan para caleg hanya berbicara bersama membangun nagari, melanjutkan perjuangan, saatnya berubah serta bla..bla..bla… dengan Visi dan misi perubahan yang masih abstrak.

Sampai saat ini dalam perjalanan yang saya lakukan ke beberapa daerah di Sumatra Barat hanya menemukan beberapa lembar baliho sebagai alat-alat sosialisasi pemilu yang digunakan para caleg yang mengangkat isu korupsi. Beberapa baliho yang mengangkat isu tindak pidana korupsi sayangnya hanya dalam jumlah yang sedikit. Terlepas dari visi dan misi para caleg pada pemilu legislatif 9 april 2009 mendatang bangsa ini mempunyai harapan yang besar kepada masyarakat indoesia yang akan juga akan menentukan nasip bangsa ini dengan menentukan pilihan secara bijak dan diiringi dengan rasionalitas dalam memilih dengan analisa yang pintar menuju perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Pesan untuk wakil rakyat

Untukmu yang duduk sambil diskusi,Untukmu yang biasa bersafari,Di sana di gedung DPR,Wakil rakyat kumpulan orang hebat,Bukan kumpulan teman teman dekat,Apalagi sanak famili,dihati dan lidahmu kami berharap, suara kami tolong dengar lalu sampaikan,jangan ragu jangan takut karang menghadang,bicaralah yang lantang jangan hanya diam,di kantong safarimu kami titipkan,masa depan kami dan negri ini,dari sabang sampai merauke,kalian dipilih bukan di lotre,meski kami tak kenal siapa saudara.

sebuah lirik dari : Iwan Fals

Acini Vransinatra
08126712376

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 20 Februari 2009

AMBIGUITAS VS KREATIFITAS

. Jumat, 20 Februari 2009
12 comments

(Surat Untuk Generasiku)
Banyak hal baru disekitar kita dan kebanyakan dari kita kadang kurang peka dengan berbagai hal baru tersebut. Kebanyakan dari kita hanya tahu hal itu telah terjadi begitu saja atau benda ini begini cara kerjanya. Jarang kita mencari tahu kenapa bisa demikian. Pengkonsumsian besar-besaran terhadap suatu produk tanpa berpikir apa yang melatar belakangi semua fenomena tersebut. Jarang kita berfikir kenapa gelas itu bentuknya seperti itu, dari mana sang penciptanya mendapatkan ide sehingga ia menciptakannya berbentuk seperti itu. Seorang perancang busana dan aksesoris dari Francis dalam sebuah wawancaranya yang ditayangkan oleh salah satu TV nasional mengatakan : “aku menciptakan sebuah rancangan, pada dasarnya berangkat dari dalam diriku sendiri, aku merancang sesuatu yang nyaman bagi diriku, dan aku yakin kenyamanan yang aku rasakan, setidaknya akan dapat dirasakan oleh mereka yang memakai hasil rancanganku”. Sedangkan kita disini berfikir bagaimana cara mendapatkan sesuatu itu besok, atau suatu saat ingin mendapatkan benda itu untuk dipajang di rumah.
Sebuah fenomena yang dapat kita lihat pada saat sekarang adalah masuknya berbagai teknologi ke negara kita. Indonesia, sama halnya dengan negara-negara dunia ketiga lainnya, banyak mengadopsi dan menerima berbagai teknologi dari negara-negara kapitalis. Salah satu jalan yang dapat kita lakukan adalah dengan menyeleksi sedapat mungkin, atau lebih baiknya mengambil beberapa bentuk dan menggabungkannya dengan apa yang kita miliki, dengan tujuan memperkaya diri.

Untuk dapat merealisasikan semua itu, tentunya dibutuhkan mereka-mereka yang berfikir kreatif dan mau bereksplorasi. Memang kita akui untuk melakukan hal tersebut tentunya tidak semudah itu. Banyak hal yang harus dilakukan dan banyak hal yang harus dikorbankan. Kita juga harus bisa mencari dan menggali lebih dalam berbagai hal baru yang masuk ke lingkungan kita. Mengambil berbagai bentuk yang baik dari yang masuk tersebut dan kemudian menggabungkannya dengan apa yang kita miliki. atau menggabungkan berbagai hal yang masuk ke lingkungan kita menjadi sesuatu yang baru.
Sebuah contoh dapat kita lihat pada musik “Dua Warna” yang pernah ditayangkan beberapa kali di sebuah stasiun TV nasional sekitar tahun 90an. Terlihat disana mereka yang terlibat terlihat berhasil menggabungkan beberapa musik yang berasal dari berbagai kebudayaan menjadi satu musik baru yang tidak pernah dimiliki oleh bangsa manapun. Keharmonisan musik dari negara Barat bergabung dengan keunikan bunyi alat-alat musik tradisional bangsa Indonesia.
Lama setelah itu baru banyak bermunculan berbagai perpaduan dalam dunia seni. Tidak hanya dalam dunia musik, seni taripun mulai mengalami berbagai perpaduan. Beberapa waktu lalu dapat kita temukan berbagai bentuk tarian yang menggabungkan tarian dari dunia Barat dengan tarian tradisional.
Di Minangkabau sebenarnya pengkayaan diri dengan cara seperti ini juga pernah dilakukan oleh ninik-ninik kita. Sebuah contoh dapat kita lihat pada musik rabab yang katanya adalah budaya Minangkabau. Sebenarnya itu hanyalah penggabungan dua budaya, dimana gambus dari Timur Tengah kemudian dipadukan dengan biola dari Spanyol. Hasil penggabungan tersebut kemudian dijadikan milik masyarakat Minangkabau. Disini kita melihat bahwa pada dasarnya tindakan tersebut adalah semacam plagiat hasil karya. Namun yang jelas di dalamnya kita dapat melihat sebuah kreatifitas. Meniru tidak persis sama dan mampu mengembangkannya lebih jauh.
Pada saat sekarang unsur kreatifitas ini mulai berkurang pada generasi muda. Kreatifitas lebih dipandang sebagai apabila kita mampu memiliki dan menguasai teknologi modern. Fenomena yang jelas terasa saat sekarang adalah trend berpakaian atau dunia musik. Berbagai jenis pakaian dan aksesorisnya menjadi impian generasi muda. Mereka akan merasa bangga apabila dapat memakai pakaian yang bermerek dengan aksesoris yang sedang trend saat sekarang. Tidak peduli berapa harganya, yang penting merek dan prestice yang melekat pada barang-barang tersebut.
Begitu juga dengan musik, generasi muda saat sekarang lebih merasa bangga apabila ia dapat bermain drum atau gitar dengan dasyat, atau dapat melantunkan lagu-lagu berbahasa Inggris. Seperti yang dituliskan oleh Parsudi dalam sebuah artikelnya ; “sebenarnya yang mereka konsumsi itu bukan sesuatu-sesuatu tersebut, tapi nilai prestice atau simbolik yang ada dibalik dan melekat pada sesuatu tersebut”. Banyak generasi muda saat sekarang merasa gengsi untuk belajar memainkan talempong atau bansi, ketinggalan jaman kata mereka. Ketika disodorkan pidato adat atau alua pasambahan, belum membacanya, mendengar saja mereka sudah menganggap itu sesuatu yang lucu. Sebagai generasi muda penulis tidak memungkiri kalau fenomena tersebut juga mempengaruhi penulis sendiri.
Intinya disini penulis ingin mengatakan, kenapa generasi sekarang tidak pernah berfikir tentang sesuatu yang lain dari apa yang ada di sekitar mereka. Apakah jerat-jerat budaya yang dibentuk oleh orang-orang yang lebih dahulu hidup begitu kuat mengikat sehingga generasi muda saat sekarang terkungkung di dalamnya, tak dapat bergerak dan akhirnya ikut begitu saja apa yang dikatakan oleh lingkungan mereka. Namun bukan berarti apa yang telah dijalani saat sekarang tidak baik, selama itu merupakan keinginan diri. Sayangnya kebanyakan generasi muda saat sekarang menjalani keseharian mereka sebagai bentuk dari pelarian diri, mereka tidak terlalu yakin dengan jalan yang mereka ambil. Ketidak puasan atas apa yang mereka kerjakan menjadi alasan mereka berhenti dan mencari sesuatu yang baru yang kadang-kadang itupun masih harus “meraba-raba” kembali. Hal-hal seperti ini apabila kita biarkan begitu saja, tentunya akan memberikan dampak tertentu bagi bangsa kita. Indonesia akan terus hidup dalam “keraguan yang terbiasakan”. Mungkin perobahan yang diakibatkannya tidak kita rasakan saat ini. Tapi suatu saat nanti ketika setelah beberapa generasi berjalan, bagaikan bom waktu ia datang menghantam tepat di tempat dimana kita duduk menikmati masa tua kita. Lalu siapa akan dipersalahkan jika semua itu terjadi.
Perilaku konsumtif, ketidak konsistenan pada sebuah pekerjaan, kreatifitas yang seragam, kurang menggali potensi diri dan lingkungan, semua yang coba penulis refleksikan di atas pada dasarnya tengah berlangsung di sekitar kita saat sekarang. Sayangnya gejala yang menurut penulis termasuk ke dalam kategori budaya ambiguitas ini terus merambat masuk ke dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat kita. Para orang tua pun mulai terkena imbas atas pola pikir “pembodohan” diri ini. Hampir sebagian besar orang tua berfikir dan menginginkan anak mereka dapat bekerja di sebuah instansi pemerintahan. Ada sebuah gambaran kesejahteraan di masa yang akan datang, gaji yang jelas setiap bulannya, saat masa pensiun menjelang tetap mendapatkan tunjangan pensiun dan lain sebagainya. Memang pada dasarnya setiap orang tua mengharapkan anak-anak mereka tidak mengalami kesusahan seperti apa yang mereka alami. Namun secara tidak langsung kondisi telah mematikan sebagian kreatifitas dan imajinasi anak-anak mereka. Terasa pada saat ini akibat dari pola pikir yang demikian telah melahirkan reaksi yang sangat berlebihan di masyaralat kita, saat pemerintah membuka penerimaan calon pegawai negeri sipil. Setiap individu memalingkan perhatian mereka dari pekerjaan mereka yang lama dan “bermimpi” suatu saat nanti mereka memakai seragam dengan lambang institusi pemerintahan tertentu.
Tidakkah pernah kita berfikir, intensitas dan kesetiaan pada sebuah pekerjaan yang merupakan bagian dari diri kita akan membawa kita pada suatu masa yang lebih ternikmati, di mana kita duduk dengan orang-orang yang kita cintai dan bercerita tentang keberhasilan masa lalu, dengan bangga menepuk dada dan berkata “akulah manusia yang hidup dengan pikiran dan hatiku dan berdiri tegar di atas kedua belah kakiku”.
VONY PONOLIA
081374403496



Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 05 Februari 2009

ANTROPOLOGI SIMBOLIK

. Kamis, 05 Februari 2009
2 comments

INI MERUPAKAN PRESENTASI SAYA WAKTU UJIAN SKRIPSI 4 TAHUN YANG LALU
Assalamualaikum W.W.
Sebelum penulis mempresentasikan hasil penelitian ini, terlebih dahulu penulis mengucapkan terima kasih kepada tim penguji yang telah memberikan waktu kepada penulis. Selain itu penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak jurusan dan pihak dekanat yang telah memberikan izin kepada penulis untuk dapat mengikuti ujian ini.
Bismillahhirrahmannirrahim ...........
Adapun judul dari skripsi ini adalah Strongkeng Sebagai Simbol Dalam Upacara Kematian, Studi Kasus Di Kenagarian Situmbuak Kecamatan Salimpauang Kab. Tanah Datar Sumatera Barat.
Penelitian ini berawal ketika penulis sedang melakukan tugas KKN yang diwajibkan Universitas. Di kenagarian ini kemudian penulis melihat suatu fenomena yang menarik perhatian penulis. Dimana di kenagarian ini, ketika ada kematian, maka di hari yang ketiga dan ketujuh selalu diadakan upacara adat yang disebut manigo hari untuk yang pertama dan manamatan kaji untuk yang satunya lagi. Sebagai seorang mahasiswa antropologi fenomena tersebut tentunya menjadi sesuatu yang menarik bagi penulis, dan yang uniknya lagi pada kedua hari yang disebutkan tersebut, ada sesuatu yang lebih menarik perhatian penulis. Yaitu sehubungan dengan penggunaan penerangan pada kedua malam yang disebutkan di atas.
Ketika ada seseorang yang meninggal, pada malam-malam saat akan diadakan acara mengaji, sampai hari yang ke tujuh semua lampu di rumah gadang dinyalakan sebagaimana layaknya dan sedikit terang dari hari yang biasanya. Namun pada hari yang ketiga di atas rumah gadang tersebut terdapat strongkeng. Selain itu di halaman rumah gadang juga terlihat sebuah strongkeng. Setelah upacara selesai lampu strongkeng tersebut tidak langsung dimatikan, tetapi dibiarkan hidup sampai suasana sudah mulai sepi. Sedikit berbeda dengan saat manigo hari, pada saat manujuah hari (manamatan kaji) lampu di rumah duka dihidupkan dan di halaman selain diterangi dengan listrik juga terdapat sebuah strongkeng.
Strongkeng yang ditampilkan pada hari-hari tertentu ini pada dasarnya mempunyai fungsi penerangan, akan tetapi ketika benda itu hanya ada pada hari-hari tertentu saja, tentunya menimbulkan pertanyaan tersendiri. Dari segi penggunaannya yang bersamaan dengan lampu listrik sebagai teknologi penerangan saat ini akan mengakibatkan benturan dari segi fungsi. Berangkat dari pertanyaan itu maka penulis berasumsi bahwa ada nilai-nilai (makna) tertentu yang tidak dapat diwakili oleh lampu listrik sebagai penerangan. Nilai-nilai (makna) yang terkandung di dalam strongkeng tersebut menjadikannya sebagai sebuah simbol yang mewakili “sesuatu” untuk menerangi “sesuatu” tersebut. Simbol dalam hal ini adalah hasil karya manusia yang lahir dari hasil interpretasinya terhadap kehidupan dan lingkungannya. Kemudian untuk melihat bagaimana makna dari keberadaan strongkeng itu, penelitian ini dilakukan. Tetapi secara holistik tetap dibahas keseluruhan proses upacara kematian tersebut, karena keseluruhannya merupakan satu kesatuan (kebudayaan sebagai sistem holistik).
Dalam konteks ini sebagai sesuatu yang memiliki makna, maka strongkeng dilihat sebagai sebuah simbol yang mencoba menjelaskan dan memperlihatkan sesuatu. Pada saat manusia berinteraksi dengan lingkungan dan aspek kehidupan lainnya, hal ini akan membentuk berbagai persepsi. Persepsi-persepsi tersebut kemudian disusun sedemikian rupa membentuk sebuah konsep. Konsep tersebut diberi bentuk dan dimaknai (simbol). Simbol tersebut pada awalnya hanyalah milik beberapa individu, setelah melalui proses sosialisasi dan mendapat kesepakatan bersama maka simbol tersebut secara tidak langsung menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
Simbol strongkeng yang diuraikan disini lebih ditekankan pada bagaimana strongkeng sebagai teknologi masa kini dapat menjadi sebuah simbol dalam sebuah ritual yang cukup tua dalam kehidupan manusia, yang digali melalui aspek sejarah, sistem pengetahuan budaya, dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan sehubungan dengan strongkeng itu sendiri. Selain itu penggunaannya yang bersamaan dengan lampu listrik sebagai teknologi penerangan saat ini akan mengakibatkan benturan dari segi fungsinya. Asumsinya adalah ada nilai-nilai (makna) tertentu yang tidak dapat diwakili oleh lampu listrik sebagai penerangan. Nilai-nilai (makna) yang terkandung di dalam strongkeng tersebut menjadikannya sebagai sebuah simbol yang mewakili “sesuatu” untuk menerangi “sesuatu” tersebut. Kemudian untuk melihat bagaimana makna dari keberadaan strongkeng itu, penelitian ini dilakukan. Tetapi secara holistik tetap dibahas keseluruhan proses upacara kematian tersebut, karena keseluruhannya merupakan satu kesatuan (kebudayaan sebagai sistem holistik).
Penelitian ini berangkat dari pemikiran, bahwa manusia adalah “homo symbolicum”. Artinya setiap tindakan manusia adalah simbol-simbol yang digunakan untuk berinteraksi. Selain itu penelitian ini juga berangkat dari cara pandang bahwa fenomena sosial budaya adalah “teks” yang dapat dibaca maksud dan tujuannya. Keberadaan strongkeng dalam upacara kematian di kenagarian Situmbuak kemudian dilihat sebagai sebuah “teks” yang sedang menceritakan sesuatu pada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang hasil akhirnya dibuat dalam bentuk deskriptif. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data, digunakan metode observasi partisipasi. Pengumpulan data lebih ditekankan pada teknik pengamatan dan wawancara. Pemilihan informan dilakukan dengan dua cara : pertama, sebelum penulis betul-betul turun ke lapangan, informan dipilih secara purposive, dengqan tujuan untuk mericek kembali fokus penelitian. Kedua, saat berada di lapangan informan didapat dengan cara adcident, dimana ketika saat berada di lapangan penulis ingin mendapatkan langsung data dari mereka yang terlibat dengan fenomena tersebut. mereka-mereka (informan) yang penulis temui di lapangan, kemudian lebih jauh di wawancarai ulang sehubungan dengan keterangan-keterangan mereka pada kesempatan sebelumnya. Semua informasi yang penulis dapatkan, untuk tingkat analisis, kemudian penulis diskusikan kembali dengan mereka-mereka yang telah ditetapkan pada awal penelitian, dan kemudian baru dituliskan dalam bentuk deskripsi.
Dari hasil penelitian ini kemudian terlihat bahwa strongkeng merupakan simbol untuk memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakat Situmbuak. Kebutuhan akan rasa tentram, aman dan damai baik di dunia nyata maupun “dunia lain”, merupakan sisi lain yang dimaksudkan tersebut. Daya kekuatan yang dimiliki strongkeng, bagi masyarakat Situmbuak dapat memberikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mereka impikan tersebut. Strongkeng disini secara tidak langsung juga mencerminkan kepribadian masyarakat Situmbuak, yang pada dasarnya terbuka namun selektif terhadap berbagai teknologi baru yang masuk ke daerah mereka. Tentunya semua itu dalam rangka memperkaya diri dan tidak merubah tatanan nilai yang ada di dalam kehidupan sosial budaya masyarakatnya.
Dari hasil penelitian ini secara tidak langsung juga dapat terlihat bahwa sebuah simbol secara fisik dapat saja berobah mengikuti perkembangan jaman. Namun hal ini dapat terjadi apabila simbol baru tersebut memiliki kesamaan dengan yang lama dan tentunya memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang sebelumnya.
Demikianlah sedikit ulasan tentang Skripsi yang penulis buat.

Wassalamualaikum W.W.

VONY PONOLIA
081374403496


Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 29 Januari 2009

ANTROPOLOGI JALANAN

. Kamis, 29 Januari 2009
3 comments

BUDAYA MINTA-MINTA

Rasa aman dan nyaman pada dasarnya merupakan impian setiap individu dalam menjalani kehidupan di lingkungan dimana ia beraktifitas. Di sini penulis mencoba untuk membahas sebuah fenomena yang mungkin telah menjadi kebiasaan kebanyakan masyarakat di daerah penulis sendiri. Sebuah fenomena yang terus berkembang dalam masyarakat Minangkabau, khususnya Sumatera Barat : yaitu pungutan, baik yang bersifat liar atau tidak resmi maupun resmi namun tidak bertanggung jawab. Dalam membahas fenomena ini, penulis berharap kita semua bijak dalam melihat apa yang coba penulis uraikan. Pungutan, iuran, retribusi, atau apapun namanya, apabila kebijakan tersebut saling menguntungkan antara mereka yang berkewajiban untuk membayar dan mereka yang melakukan tindakan tersebut, jelas hal itu sah-sah saja. Namun kebanyakan kasus, tindakan tersebut hanya memberatkan dan merugikan mereka yang kebetulan dibebani untuk membayar segala bentuk bayaran tersebut.
Pernah suatu hari penulis pergi bersama beberapa orang teman ke luar kota, pada hari itu selama dalam perjalanan entah beberapa kali mobil kami terpaksa melambat karena jalan lintas antar kota tersebut macet karena di depan sebuah bus angkutan umum berjalan sangat lambat, di kiri-kanan bus tersebut terlihat beberapa orang mengangkat tinggi-tinggi sebuah ember yang digunakan untuk menampung sumbangan dari para penumpang bus tersebut. Mungkin karena sudah terlalu sering hal tersebut terjadi, tiba-tiba seorang teman penulis menggerutu dan membahas fenomena tersebut dengan sudut pandangnya yang menilai hal tersebut adalah sesuatu yang negatif. Kalau kita urai lebih jauh secara tidak langsung tindakan tersebut telah membuat orang memiliki pikiran negatif dan akhirnya tidak lagi simpatik dengan apa yang di lakukan oleh masyarakat tersebut. Mungkin mereka akan mendirikan tempat ibadah, jelas tindakan tersebut adalah sesuatu yang baik, namun membuat orang berdosa karena kebijakan yang diambil untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, jelas itu tidak baik lagi.
Saat kita berjalan ke suatu tempat atau ke luar daerah, sering kita temui dibeberapa tempat masyarakat sekitar menghadang lajunya mobil-mobil yang melintas untuk meminta sumbangan untuk berbagai bentuk pembangunan. Baik itu untuk pembangunan mesjid atau musholla, atau sumbangan untuk perbaikan jalan yang rusak, atau pembangunan sarana sosial yang ada di daerah tersebut. Di satu sisi mungkin ada baiknya tindakan yang dilakukan oleh masyarakat yang bersangkutan. Secara tidak langsung mereka telah membantu orang lain untuk berbuat baik, karena kita tahu tidak semua orang punya waktu atau kesempatan untuk berbuat baik dalam hidupnya. Sebagai manusia normal kadang tidak jarang kita lupa bahwa sebagian dari harta yang kita miliki terdapat hak orang lain, dan untuk itu islam menganjurkan setiap umatnya untuk membersihkan harta mereka dengan jalan infak, sedekah, zakat atau cara yang lain sebagainya. Namun di satu sisi tindakan tersebut secara tidak langsung juga telah mengganggu keamanan dan kenyamanan orang lain dalam melaksanakan aktivitas mereka. Menghadang setiap mobil yang lewat, dengan harapan mereka yang lewat memberikan bantuan. Kita tahu tidak semua orang yang dapat menerima apa yang kita lakukan terhadap mereka. Setiap orang memiliki jalan fikiran yang belum tentu sama dengan apa yang kita pikirkan.
Fenomena di atas akan semakin terasa oleh mereka yang melakukan perjalanan ke luar kota pada saat bulan Ramadhan datang. Dalam diskusi penulis dengan beberapa orang teman, mereka menganggap bahwa tindakan atau kebijakan yang diambil tersebut adalah sebuah bentuk penyimpangan dan pemanfaatan dokrin agama yang diajarkan pada setiap pengikutnya untuk terus beramal dalam keseharian mereka. Seorang dosen Antropologi Agama kami pernah menuliskan dalam sebuah artikelnya, menyatakan bahwa ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu dalam Islam bukanlah kebudayaan, akan tetapi kalau ajaran tersebut diyakini, dipahami dan di interpretasikan serta diamalkan manusia, barulah kemudian ajaran tersebut menjadi kebudayaan Islam. Kalau kita berangkat dari konsep yang dituliskan diatas untuk melihat fenomena yang sedang kita bahas ini, sebuah pertanyaan akan muncul apakah fenomena tersebut merupakan kebudayaan islam ?. Jelas Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi orang yang hidup dari belas kasihan orang lain. Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk meluruskan semua itu ?.
Parsons pernah menulis bahwa agama adalah titik artikulasi antara culture system dan social system, dimana nilai-nilai dari sistem budaya terjalin dalam sistem sosial, dan diwariskan, diinternalisasikan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya, dengan kata lain agama juga merupakan sarana internalisasi nilai budaya yang terdapat di dalam masyarakat kepada sistem kepribadian individu. Kalau kita berangkat dari teori Parsons ini kita akan dapat memproyeksikan ke depan kira-kira apa yang akan terjadi pada generasi selanjutnya.
Tapi yang jelas kita masih harus terus belajar dan menganalisa berbagai fenomena yang ada disekitar kita, agar setiap kita tidak terjebak dalam pemikiran-pemikiran yang akhirnya mengungkung dan mempersempit pola pikir kita sendiri. Untuk hal ini penulis mencoba mengutip sebuah tulisan dari Ani Sekarningsih dalam bukunya "Teweraut" tentang makna belajar, ia menulis “Makna belajar adalah Mengubah pengetahuan dan pengalaman menjadi kearifan, kesabaran dan kasih sayang untuk menjadi dewasa, yang pada saatnya di harapkan dapat melengkapi kehidupan bangsa pemetik itu menjadi mandiri, agar tidak hidup dalam ketergantungan oleh sumbangan dan belas kasihan belaka” (Ani Sekarningsih, Teweraut, YOI, Jakarta, 2000, hal 294).


Vony Ponolia
081374403496



Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 23 Januari 2009

ANTARA HATI, PIKIRAN, DAN KEINGINAN (Bagian II)

. Jumat, 23 Januari 2009
2 comments

Beribu karya telah tercipta dari tangan-tangan manusia. Entah dari mana datangnya, berbagai inspirasi terus bermunculan, seakan alam tak pernah berhenti memperlihatkan sesuatu yang baru pada kita. Manusia-manusia kreatif tidak hanya menyimpan inspirasi-inspirasi tersebut dalam otak mereka. Mereka akan melahirkannya dalam berbagai bentuk karya cipta. Puisi, musik, lukisan, cerita dalam kertas, benda dan lain sebagainya. Kata orang bakat manusia telah ditentukan jauh sebelum ia dilahirkan. Bagaimana kalau bakat itu menuntut manusia untuk terus berkarya, sementara inspirasi berhenti muncul di kelopak mata, apa yang akan dilakukan manusia ?.
“Cobalah berhenti sejenak dan lakukan hal yang lain”.
Malam itu Boy, Popon, dan Uncu tengah duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi dan indahnya purnama 14. Boy mencoba memberikan masukannya.
“Sudah berapa banyak lukisan yang telah engkau buat ?”. Popon bertanya pada sahabatnya Boy.
Boy tidak menyebutkan angka pasti. “Sejak Kelas 2 SMP”. Jawaban itu menyiratkan begitu banyak lukisan yang telah ia buat.
“Mmmm. Kalau Uncu, apa yang telah berhasil Uncu ciptakan ?”. Kali ini pertanyaan itu diarahkan pada Uncu.
“Belum ada, paling hanya skripsi”.
“Tapi katanya Uncu pernah menulis puisi”. Boy coba mengingatkan Uncu tentang apa yang pernah dibuatnya pada waktu lalu.
“Ya, beberapa buah, tapi sekarang sudah hilang entah kemana, cukup bagus dan aku sendiri bangga dengan puisi itu”. Uncu membakar rokok dan menghisap asapnya.
“Aku juga menulis puisi dan sekarang masih tersimpan dalam file komputer”. Boy memberitahukan pada kedua sahabatnya kalau ia juga menulis puisi, walau kedua sahabatnya sudah tahu akan hal itu.
“Apakah kalian pernah mempublikasikan karya-karya kalian itu. Ya, setidaknya pada orang-orang sekitar kalian”.
“Bagiku semua yang telah aku ciptakan hanyalah untuk diriku sendiri, semua lebih bersifat privasi”. Sambil berdiri dan bersandar pada pagar Boy menyampaikan maksudnya berkarya.
“Semua orang berkarya aku pikir pada dasarnya adalah untuk dirinya sendiri. Tapi alangkah sayangnya kalau keindahan hasil karya kita itu tidak dapat dinikmati oleh orang lain”. Popon mencoba menyampaikan pandangannya yang sedikit menggurui, sudut matanya mengarah pada Boy.
“Benar apa yang kau sampaikan kawan, tapi itukan tergantung pada orangnya, kalau orang tersebut merasa belum siap untuk mempublikasikan karyanya bagaimana ?”. Uncu tahu kalau Popon sedang menuding Boy dengan kata-katanya. Merasa pembicaraan itu mengarah kepadanya, Boy mencoba membantah.
“Bukan masalah siap atau tidak siapnya Uncu, tapi ini masalah untuk siapa kita berkarya”.
“Pembelaan yang tidak pernah berubah sejak jaman batu”. Dengan nada sedikit mencemooh Popon menanggapi alasan Boy saat itu.
“Sebuah karya tidak akan bermakna apa-apa jika ia hanya tersimpan di balik bantal dan akhirnya hancur di makan bangsat. Orang tidak akan tahu siapa diri kita bila kita tidak pernah berdiri memperkenalkan diri, ia kan Uncu ?”. Popon membeberkan sedikit pemikirannya yang jelas di tujukan pada Boy.
“Hei.., cobalah kau hargai sedikit perbedaan. Uncu tolong kau ajar kawanmu itu !”. Boy merasa sedikit tersinggung dengan sikap Popon. Emosinya sedikit terpancing, tapi Boy bukan tipe orang yang gampang meledak.
“Oke.. oke, kalau kau tidak suka aku cabut kembali kata-kataku, jangan emosi kawan, inikan malam yang indah, coba lihat purnama itu, ia tersenyum pada kita, iya kan Uncu ?”. Popon mencoba bercanda untuk mendinginkan suasana. Uncu tersenyum saat melihat kedua sahabatnya itu saling berseberangan.
“Awas kau ya, suatu saat akan ku balas !”. Boy kembali tersenyum saat ia sadar kalau dirinya terbawa arus permainan sahabatnya malam itu.
“He..he..”. Popon merasakan sedikit kemenangan dalam dirinya. Sesaat suasana hening, tak ada percakapan, mereka asik menatap bulan sambil menghisap rokok dan sekali-kali mereguk nikmatnya kopi yang tidak lagi panas.
“O.iya Uncu !, ada yang ingin aku tanyakan”. Tiba-tiba suara Popon memecah keheningan di antara mereka.
“Aku baru saja selesai menulis sebuah cerita”. Ia melanjutkan pembicaraannya.
“O.., tentang apa ?”. Uncu coba untuk merespon.
“Tentang Minangkabau, tambonya aku robah dalam bentuk epik”. Popon melanjutkan lebih jauh.
“Trus ?”.
“Rencananya tulisan itu akan aku lampirkan dalam surat lamaranku”.
“Bagus kalau begitu, lalu permasalahannya apa ?”.
“Begini kawan, ada sesuatu yang terus mengganggu pikianku, sehingga sampai saat ini aku ragu untuk memasukkan lamaranku tersebut”. Asap rokok tak pernah berhenti keluar dari mulutnya. Uncu terlihat sedikit serius mendengarkan. Sedangkan Boy terus saja memandang bulan. Bagi Boy memandang bulan setiap purnama sudah menjadi ritual tersendiri.
“Aku minta pendapat pada Uncu, bagi-bagi ilmulah setidaknya. Anggap Uncu sebagai penasehat hukum aku saat ini”. Popon sedikit menjelaskan posisi kawannya saat itu dalam pembicaraan yang akan mereka lanjutkan. Uncu memang seorang sarjana hukum dan sekarang sedang melanjutkan studi S2nya di Yogyakarta bidang kenotariatan.
“Jadi begini, tulisan itukan aku buat dalam bentuk epik, aku berencana menjadikannya dalam bentuk visual. Lebih tepatnya epik yang aku buat itu dalam bentuk scrip. Tulisan itu akan aku sertakan dalam lamaran. Yang aku tujukan pada sebuah stasiun televisi nasional. Nah, sampai saat ini aku selalu dihantui pemikiran, bagaimana kalau seandainya tulisan ku itu di ambil oleh mereka ?”. Popon tidak tahu harus memulai pembicaraan itu dari mana, sehingga terkesan penjelasannya itu berbelit-belit. Namun kedua sahabatnya itu dapat menangkap apa inti dari semua itu.
“Hei..hei..hei.., ternyata kau tidak lebih baik dari aku kan ?”. Boy yang mencuri dengar, tiba-tiba melihat sedikit peluang untuk membalas sahabatnya itu.
“Tapi, nggak masalah, kita tidak akan membahas masalah itu, aku tidak mau “mundur””. Boy kembali duduk di kursinya. Saat melihat Uncu akan bicara Boy mencoba memotong dengan isyarat tangan.
“Sebentar Uncu. Begini, hem..hem...”. Ekspresinya yang dibuat-buat sama sekali tidak mengganggu kedua sahabatnya.
“Bagiku itu tidak masalah, yang jelas kita punya niat baik, kalau mereka mencuri, mereka sendiri yang akan rugi. Mereka tidak akan pernah maju. Kalian mengerti apa yang aku maksud ?”. Gayanya menerangkan dan bertanya mengingatkan Uncu dan Popon pada seorang dosen di kampus mereka dulu. Orangnya sudah sedikit berumur, mengajar dengan diktat tua yang sudah layak ganti di tangan. Lama kedua sahabatnya tidak menjawab sepatah katapun, akhirnya ia melanjutkan kembali penjelasannya yang sempat terputus. “Maksudnya begini, seseorang yang hidup dari hasil karya orang lain akan mati dengan sendirinya. Saat orang yang menjadi rujukannya berhenti mencipta, ia akan bingung, karena ia tidak biasa berkarya, otaknya tidak biasa untuk memunculkan ide-ide, bagaimana ?”. Walau sedikit membingungkan namun inti dari penjelasan Boy dapat di tangkap oleh ke dua sahabatnya. Jelas ini karena mereka sudah lama berteman dan tahu kebiasaan masing-masing.
“Itu kalau kita lihat dari sudut pandang humannya. Dari segi hukum, orang yang melakukan tindakan tersebut dapat di tuntut. Ada namanya undang-undang hak cipta, kira-kira begini, ketika seseorang mewujudkan pemikirannya dalam bentuk media, maka hak cipta itu akan lahir dengan sendirinya, HAKI, Hak Kekayaan Intelektual istilahnya”.
“Ya terlepas dari semua itu yang jelas kita berkarya, ya nggak ?, apakah nanti karya kita akan ditiru orang atau bagaimanapun itu sudah resiko yang harus kita hadapi, kalau kita terus berfikir karya kita akan dicuri orang lain, kapan tujuan kita akan tercapai. Indonesia kawan, kau tahu Indonesia ?”. Sambil mengangkat bahu dan menengadahkan telapak tangan, Boy memonyongkan mulutnya. Ia memang termasuk orang yang skeptis terhadap sikap moral individu masyarakat Indonesia.
“Dan lagian kalau seandainya ada orang lain yang mencuri ide kita, kita bisa ajukan tuntutan pada orang tersebut, ada jalur hukum yang mengaturnya”. Uncu mencoba melanjutkan penjelasannya. Tapi segera di potong oleh Popon.
“Begini Uncu. Aku pernah mengirim 8 buah lagu ciptaanku pada sebuah PH di Jakarta yang beberapa waktu lalu mengadakan lomba karya cipta lagu. Aku merekam lagu tersebut dalam bentuk kaset sekaligus tesknya. Waktu itu aku kirim lewat pos. Beberapa bulan kemudian aku mendengar sebuah irama lagu yang mirip dengan lagu yang pernah aku ciptakan. Tapi perasaan itu aku tepis, karena pihak panitia lomba yang aku ikuti tidak pernah menghubungi, jadi aku pikir itu mungkin bukan laguku”. Popon mencoba menceritakan pengalamannya beberapa tahun yang lalu.
“Copyannya ada kamu simpan ?”.
“Sayangnya tidak, semua aku kirimkan”.
“Kalau begitu apa yang akan kita jadikan bukti kalau lagu itu adalah karya kamu ?”. Popon terdiam, ia merasa sedikit tersudut dengan pertanyaan tersebut.
“Oke Uncu, tapi masalahnya begini. Mereka punya tim ahli, mereka bisa saja merobah sedikit karya kita, mereka paham apa yang lebih baik dimasukkan dan lebih baik dibuang, mereka punya ahlinya, atau kapan perlu mereka bisa bayar orang untuk melakukan hal tersebut. Mereka tinggal ambil intinya dan mengembangkannya lalu jadi. Yang jelas kita tidak bisa bilang kalau itu karya kita, iya kan ?”.
“Iya..iya, aku paham maksudmu, tapi kalau kita dapat melihat seseorang mencuri ide dari karya kita, dan kita yakin akan keyakinan kita itu, kita bisa tuntut orang itu”.
“Tidak, Uncu tidak paham apa yang ada dalam pikiranku. Uncu tahu, tidak hanya kita yang punya ide, semua orang punya ide, dan kadang kala ide kita itu sama”.
“Iya, aku paham”. Uncu mencoba memotong pembicaraan sahabatnya itu. “Bahkan ketika ide tersebut bertikai beberapa menit saja dalam perwujudannya dalam media, orang yang lebih dahulu melahirkannya dalam bentuk media, maka ia berhak mengklaim hak cipta terhadap karya tersebut”.
Pembicaraan itu akhirnya terhenti sejenak. Popon terus saja tidak puas dengan berbagai penjelasan Uncu. Boy yang diam sedari tadi akhirnya pergi ke luar untuk membeli rokok ke kedai. Pikiran Popon terbang entah kemana, masuk ke dalam ruang yang gelap, keluar di jalan yang remang, sampai akhirnya kembali.
“Aku tetap saja ragu Uncu, kau tahu kenapa ?”. Popon memutus kalimatnya. Boy yang baru saja kembali dari membeli rokok kembali duduk di posisinya. Boy meletakkan rokok di atas meja. Popon langsung membuka kotak rokok tersebut, mengeluarkan isinya sebatang dan menyambung rokoknya yang sudah terpuntung. Asapnya yang kelabu dihisapnya dalam, di hempaskannya ke langit-langit rumah.
“Kebudayaan kita. Masyarakat kita. Merupakan plagiat yang kreatif”. Setelah mengucapkan kalimat itu Popon kembali diam. Ia memandangi asap rokok yang terbang mengambang dan hilang di tiup angin. Apapun penjelasan dan argumen-argumen yang disampaikan oleh Uncu dan Boy, Popon tetap saja resah dan tak pernah tentramkan hati dan pikirannya. Entah mengapa Popon tetap saja tak pernah bisa menentramkan hatinya agar tidak lagi meragu. Pembicaraan itu kembali terus berlanjut, plagiat kreatif, pencurian ide, makan tulang kawan, menggunting dalam lipatan dan lain sebagainya menjadi tema sentral pembicaraan mereka malam itu. Namun Popon lebih banyak diam dan terus menatap rembulan yang berlahan tertutup awan. Dalam hati ia berkata :
Aku telah lelah menulis dan terus menulis, tapi jiwaku terus memaksa tanganku untuk bergerak.
Dapatkah kau tolong aku untuk menghentikan diriku.
Aku bosan kalau hanya tanganku yang terus bergerak, aku ingin setiap sendi di dalam tubuhku bergerak bebas, sebebas tanganku yang tak pernah berhenti menulis.
Setiap sel dalam darahku mendidih bila teringat masalah itu.
Hingga jiwaku memaksa tangan ini untuk terus merangkai kata yang “ia” inginkan.
Aku tak bisa lupakan masalah itu.
Tapi otakku bingung, masalah apa yang ada dalam diriku.
Aku sendiri heran, mengapa jadi begini, bangsat !, bedebah !, setan alas !, .......!, ........!. Hoooooi, kalian !!, tolong hentikan aku
”. (Wartel, 4 Mei 2002)


Vony Ponolia
081374403496



Klik disini untuk melanjutkan »»