Langsung ke konten utama

Alumni Antropologi Bukan Seorang Antropolog, Tanya Kenapa ?

Setiap memulai sesuatu yang baru kita akan selalu dihadapkan pada suatu masalah, baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri. Begitu juga dalam memulai sebuah penelitian, baik itu yang dilakukan di dalam ruangan maupun yang dijalani dilapangan. Dalam dunia antroplogi keluar masuk suatu kampung merupakan hal yang lumrah dan telah menjadi kebiasaan. Pindah dari satu desa ke desa yang lain atau satu nagari ke nagari yang lain adalah pekerjaan pokok yang harus dijalani. Tidak ada dalam kamus antropologi seorang antropolog duduk dibelakang meja dan berbicara tentang suatu tempat, tentu saja itu suatu yang sangat memalukan sekali (bagi mereka yang mengaku seorang antropolog). Namun pada perkembangannya dan kenyataannya pada saat sekarang, kecendrungan para antroplog muda Indonesia lebih menyukai cara penelitian dibelakang meja ini. Kegamangan memasuki lapangan penelitian menjadi momok yang menakutkan bagi mereka. Banyak faktor yang membentuk dunia baru cara penelitian antropolog ini, diantaranya latar belakang mengapa mereka memilih kuliah didisiplin ilmu antropologi.Kebanyakan mahasiswa yang kuliah dijurusan antropologi menjadikan jurusan antropologi sebagai pilihan yang kedua (bagi mereka yang mengikuti SPMB IPS) atau pilihan yang ketiga (bagi mereka yang mengikuti SPMB IPC). Kondisi ini diperparah lagi karena sebagian dari mereka yang lulus SPMB di jurusan antropologi bahkan sama sekali tidak mengenal apa itu antropologi atau paling tidak pernah belajar di SLTA tapi hanya sekedar mengikuti. Mungkin hal diatas hanya merupakan sebuah kasus bagi sebagian antroplog, dan tentu saja seiring dengan berjalannya perkuliahan minat mereka dapat terus berkembang. Permasalahan lain dan menurut penulis hal ini sangat mempengaruhi sikap mental antropolog muda Indonesia yaitu alumni dan metode perkuliahan yang di terima di kampus.
Dari segi alumni yang dihasilkan, kebanyakan mereka bekerja dari satu proyek ke proyek yang lain. Hanya sebagian kecil saja yang memiliki pekerjaan tetap, kalaupun ada yang bekerja tetap tapi tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dijalani semasa kuliah, kalaupun ada jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Hidup dari satu proyek ke proyek yang lain pada dasarnya bukanlah pekerjaan yang buruk, namun ketika proyek-proyek penelitian itu juga digeluti oleh staf pengajar antropologi (dosen) tentu saja hidup dari satu proyek ke proyek yang lain tersebut sangat tidak memungkinkan sekali. Coba jawab, siapa yang akan anda pilih untuk memberi anda ilmu beladiri, seorang murid atau guru dari murid tersebut ?. Saya rasa, saya tak perlu membantu anda menjawabnya. Melihat kondisi kebanyakan alumni antroplogi yang seperti ini, secara tidak langsung memberikan efek samping bagi mahasiswa yang sedang menimba ilmu dijurusan ini. Buat apa susah payah belajar keluar masuk kampung, pada kenyataannya proyek-proyek penelitian kebanyakan ditangani oleh para dosen, “lebh baik kita dekat dengan mereka dan menjadi petugas data entri buat mereka, gajinya juga lumayan” (sambil bercanda seorang mahasiswa antropologi menyampaikannya pada saya), saya pikir juga demikian.
Hal lain yang menjadi faktor penyebab dalam permasalahan ini yaitu metode pembelajaran yang diberikan dibangku perkuliahan. Melihat pada kenyataannya saat sekarang, mahasiswa dicekoki dengan berbagai metode dan teori, mereka dipaksa untuk paham tentang metodologi-metodologi dan teori-teori tanpa diberi kesempatan untuk berimprofisasi dalam metodologi tersebut atau mengembangkan sendiri teori-teori yang ada didalam kepala mereka. Sebagian mahasiswa mengaku hanya sekali saja mengikuti perkuliahan di lapangan, selebihnya sama sekali tidak pernah mengikuti perkuliahan di lapangan. Pertanyaanya jadi sangat sederhana sekali, bagaimana mungkin lulusan yang dihasilkan siap untuk bekerja di lapangan kalau mereka sama sekali tidak pernah diajarkan bagaimana cara bekerja dilapangan. Seorang kawan diskusi saya pernah mengatakan “ilmu itu kan bisa di transfer bro..!”. Saya pikir juga begitu, seorang dosen cukup menceritakan pengalaman-pengalaman mereka saat bekerja dilapangan dahulu, dengan begitu mahasiswa tinggal memejamkan mata dan membayangkan kalau yang berada dilapangan tersebut adalah mereka, mudah bukan ?.
Selain faktor-faktor di atas, permasalahan lain timbul justru dari dalam rumah mereka sendiri. Kebanyakan orang tua kita berpandangan kalau yang namanya kerja itu ada kantornya, masuk dari jam sekian dan keluar jam sekian, pakai baju kemeja (kalau bisa pakai dasi), celana katun dan sepatu kulit. Alhasil, kebanyakan lulusan antropologi bukannya jadi antropolog, tapi jadi sales, deep collector atau surveyor sebuah finnace.
“Lo.., pekerjaan-pekerjaan tersebut kan ada hubunganna sama disiplin ilmu kita bro.., selain itu disiplin ilmu kita sangat fleksibel bro, semua pekerjaan yang mengandung unsur interaksi dengan manusia atau orang lain merupakan lapangan pekerjaan bagi disiplin ilmu kita ?, kata teman diskusi saya. “Kalau jadi tukang jual obat di pasar raya ?, saya mencoba mengajukan pertanyaan. “Yap, tanpa kecuali”, teman diskusi saya menjawab singkat. He..., iya-ya, saya pikir juga begitu.
Padang, 11 Januari 2009
Arvonceda
08137443496



Komentar

Anonim mengatakan…
hmm ada ngak tunduhan kelewat serius tuh heheheh bagaimana pun senior itu senior. Tapi fuck hell aja deh sebagai generasi muda memang bertugas melewati pencapaiaan generasi sebelumnya
Dominiria Hulu mengatakan…
nice blog..
semoga kita dapat menjadi antropolog yang jeli akan masalah yang ada disekitar kita..
Toms mengatakan…
batuah lo liak kwn,tapi sabananyo Antropolog2 dak dibutuhkan di Indonesia. yang dibutuhkan Ekonom, Insinyur dll. kan lai contoh dakek kwn, Lulusan Antropologi dipaso jadi ankuntan (internal Auditor) di PT Semen Padang. Sia yang salah kawan ??? Antropolog itu sendiri Atau PT.Semen Padang atau atau......... ( jangan salahkan ibu mengandung klu anak yg dikanduang indak dapek karajo)
Amy Kaylor Photography mengatakan…
I don't know who you are, but I sure don't appreciate your comment on my blog! Creepy!!!!!!!! Stay away.
Amy Kaylor Photography mengatakan…
I don't know who you are, but I sure don't appreciate you leaving some creepy message on my blog!!! Stay AWAY!!!!!!!
Anonim mengatakan…
Hmmmm... Hmmmm Bener juga yaa, kayanya kalo dibangku kuliahan ini yang penting adalah dilapangan yaa... Kayanya kurang lebih anak teknik juga deh, walaupun secara teoritis udah ngerti, eh kalo udah terjun ke lapangan bakal jauh beda dengan teori.... Bnyak deh yang udah pengalaman yang kaya gini....

Salam kenal yaah...
Aditya mengatakan…
Santai aja bro...jadi antropolog itu menarik,,banyak hal yang asik, yang baru, yang aneh tapi menarik...antropolog kan gak cuma gantungin kerjaan dari proyek2 aja..kekuatan dan kelebihan kita antropolog yang lain kan ada..dlm hal menulis dg memakai teknik menulis ala antropolog kita bisa bikin buku2 yang berbeda yg lbh bagus tentunya...hehehe

Postingan populer dari blog ini

EKONOMI DAN KEBUDAYAAN EKONOMI PERSONALISME

Antropologi ekonomi personalisme dapat dibagi atas tiga kelompok. Pertama, kelompok ekonomi personalisme Szanton, Davis dan Dewey. Kedua, ekonomi moral dari Scott dan ekonomi politik dari Popkin yang dikembangkan sebagai kritik terhadap ekonomi moral Scott. Ketiga, antropologi ekonomi pos-modernis dari Scott (1985-1990), yang ia kembangkan dari ketidak puasannya atas studi-studi yang pernah dibuatnya di waktu lalu. Pada dasarnya ketiga kelompok aliran tersebut memiliki persamaan yang memberikan ciri khas pada antropologi ekonomi personalisme. Ciri pertama ekonomi personalisme adalah penekanannya yang kuat pada pembahasan mengenai pertukaran sosial yang sumber ajarannya datang dari antropologi sosial Inggris. Dimana dari antropologi Inggrislah lahirnya berbagai teori tentang pertukaran sosial dan semacamnya yang merupakan pondasi dari antropologi ekonomi. Ciri yang kedua yaitu dikotomi pemikiran formalis dan substantif yang tetap digunakan dalam analisanya namun lebih mendalam dan me...

ANTROPOLOGI SIMBOLIK

INI MERUPAKAN PRESENTASI SAYA WAKTU UJIAN SKRIPSI 4 TAHUN YANG LALU Assalamualaikum W.W. Sebelum penulis mempresentasikan hasil penelitian ini, terlebih dahulu penulis mengucapkan terima kasih kepada tim penguji yang telah memberikan waktu kepada penulis. Selain itu penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak jurusan dan pihak dekanat yang telah memberikan izin kepada penulis untuk dapat mengikuti ujian ini. Bismillahhirrahmannirrahim ........... Adapun judul dari skripsi ini adalah Strongkeng Sebagai Simbol Dalam Upacara Kematian, Studi Kasus Di Kenagarian Situmbuak Kecamatan Salimpauang Kab. Tanah Datar Sumatera Barat. Penelitian ini berawal ketika penulis sedang melakukan tugas KKN yang diwajibkan Universitas. Di kenagarian ini kemudian penulis melihat suatu fenomena yang menarik perhatian penulis. Dimana di kenagarian ini, ketika ada kematian, maka di hari yang ketiga dan ketujuh selalu diadakan upacara adat yang disebut manigo hari untuk yang pertama dan manamatan kaj...

ANTARA HATI, PIKIRAN, DAN KEINGINAN (Bagian II)

Beribu karya telah tercipta dari tangan-tangan manusia. Entah dari mana datangnya, berbagai inspirasi terus bermunculan, seakan alam tak pernah berhenti memperlihatkan sesuatu yang baru pada kita. Manusia-manusia kreatif tidak hanya menyimpan inspirasi-inspirasi tersebut dalam otak mereka. Mereka akan melahirkannya dalam berbagai bentuk karya cipta. Puisi, musik, lukisan, cerita dalam kertas, benda dan lain sebagainya. Kata orang bakat manusia telah ditentukan jauh sebelum ia dilahirkan. Bagaimana kalau bakat itu menuntut manusia untuk terus berkarya, sementara inspirasi berhenti muncul di kelopak mata, apa yang akan dilakukan manusia ?. “Cobalah berhenti sejenak dan lakukan hal yang lain”. Malam itu Boy, Popon, dan Uncu tengah duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi dan indahnya purnama 14. Boy mencoba memberikan masukannya. “Sudah berapa banyak lukisan yang telah engkau buat ?”. Popon bertanya pada sahabatnya Boy. Boy tidak menyebutkan angka pasti. “Sejak Kelas 2 SMP”. ...