Langsung ke konten utama

ANTROPOLOGI JALANAN

BUDAYA MINTA-MINTA

Rasa aman dan nyaman pada dasarnya merupakan impian setiap individu dalam menjalani kehidupan di lingkungan dimana ia beraktifitas. Di sini penulis mencoba untuk membahas sebuah fenomena yang mungkin telah menjadi kebiasaan kebanyakan masyarakat di daerah penulis sendiri. Sebuah fenomena yang terus berkembang dalam masyarakat Minangkabau, khususnya Sumatera Barat : yaitu pungutan, baik yang bersifat liar atau tidak resmi maupun resmi namun tidak bertanggung jawab. Dalam membahas fenomena ini, penulis berharap kita semua bijak dalam melihat apa yang coba penulis uraikan. Pungutan, iuran, retribusi, atau apapun namanya, apabila kebijakan tersebut saling menguntungkan antara mereka yang berkewajiban untuk membayar dan mereka yang melakukan tindakan tersebut, jelas hal itu sah-sah saja. Namun kebanyakan kasus, tindakan tersebut hanya memberatkan dan merugikan mereka yang kebetulan dibebani untuk membayar segala bentuk bayaran tersebut.
Pernah suatu hari penulis pergi bersama beberapa orang teman ke luar kota, pada hari itu selama dalam perjalanan entah beberapa kali mobil kami terpaksa melambat karena jalan lintas antar kota tersebut macet karena di depan sebuah bus angkutan umum berjalan sangat lambat, di kiri-kanan bus tersebut terlihat beberapa orang mengangkat tinggi-tinggi sebuah ember yang digunakan untuk menampung sumbangan dari para penumpang bus tersebut. Mungkin karena sudah terlalu sering hal tersebut terjadi, tiba-tiba seorang teman penulis menggerutu dan membahas fenomena tersebut dengan sudut pandangnya yang menilai hal tersebut adalah sesuatu yang negatif. Kalau kita urai lebih jauh secara tidak langsung tindakan tersebut telah membuat orang memiliki pikiran negatif dan akhirnya tidak lagi simpatik dengan apa yang di lakukan oleh masyarakat tersebut. Mungkin mereka akan mendirikan tempat ibadah, jelas tindakan tersebut adalah sesuatu yang baik, namun membuat orang berdosa karena kebijakan yang diambil untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, jelas itu tidak baik lagi.
Saat kita berjalan ke suatu tempat atau ke luar daerah, sering kita temui dibeberapa tempat masyarakat sekitar menghadang lajunya mobil-mobil yang melintas untuk meminta sumbangan untuk berbagai bentuk pembangunan. Baik itu untuk pembangunan mesjid atau musholla, atau sumbangan untuk perbaikan jalan yang rusak, atau pembangunan sarana sosial yang ada di daerah tersebut. Di satu sisi mungkin ada baiknya tindakan yang dilakukan oleh masyarakat yang bersangkutan. Secara tidak langsung mereka telah membantu orang lain untuk berbuat baik, karena kita tahu tidak semua orang punya waktu atau kesempatan untuk berbuat baik dalam hidupnya. Sebagai manusia normal kadang tidak jarang kita lupa bahwa sebagian dari harta yang kita miliki terdapat hak orang lain, dan untuk itu islam menganjurkan setiap umatnya untuk membersihkan harta mereka dengan jalan infak, sedekah, zakat atau cara yang lain sebagainya. Namun di satu sisi tindakan tersebut secara tidak langsung juga telah mengganggu keamanan dan kenyamanan orang lain dalam melaksanakan aktivitas mereka. Menghadang setiap mobil yang lewat, dengan harapan mereka yang lewat memberikan bantuan. Kita tahu tidak semua orang yang dapat menerima apa yang kita lakukan terhadap mereka. Setiap orang memiliki jalan fikiran yang belum tentu sama dengan apa yang kita pikirkan.
Fenomena di atas akan semakin terasa oleh mereka yang melakukan perjalanan ke luar kota pada saat bulan Ramadhan datang. Dalam diskusi penulis dengan beberapa orang teman, mereka menganggap bahwa tindakan atau kebijakan yang diambil tersebut adalah sebuah bentuk penyimpangan dan pemanfaatan dokrin agama yang diajarkan pada setiap pengikutnya untuk terus beramal dalam keseharian mereka. Seorang dosen Antropologi Agama kami pernah menuliskan dalam sebuah artikelnya, menyatakan bahwa ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu dalam Islam bukanlah kebudayaan, akan tetapi kalau ajaran tersebut diyakini, dipahami dan di interpretasikan serta diamalkan manusia, barulah kemudian ajaran tersebut menjadi kebudayaan Islam. Kalau kita berangkat dari konsep yang dituliskan diatas untuk melihat fenomena yang sedang kita bahas ini, sebuah pertanyaan akan muncul apakah fenomena tersebut merupakan kebudayaan islam ?. Jelas Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi orang yang hidup dari belas kasihan orang lain. Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk meluruskan semua itu ?.
Parsons pernah menulis bahwa agama adalah titik artikulasi antara culture system dan social system, dimana nilai-nilai dari sistem budaya terjalin dalam sistem sosial, dan diwariskan, diinternalisasikan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya, dengan kata lain agama juga merupakan sarana internalisasi nilai budaya yang terdapat di dalam masyarakat kepada sistem kepribadian individu. Kalau kita berangkat dari teori Parsons ini kita akan dapat memproyeksikan ke depan kira-kira apa yang akan terjadi pada generasi selanjutnya.
Tapi yang jelas kita masih harus terus belajar dan menganalisa berbagai fenomena yang ada disekitar kita, agar setiap kita tidak terjebak dalam pemikiran-pemikiran yang akhirnya mengungkung dan mempersempit pola pikir kita sendiri. Untuk hal ini penulis mencoba mengutip sebuah tulisan dari Ani Sekarningsih dalam bukunya "Teweraut" tentang makna belajar, ia menulis “Makna belajar adalah Mengubah pengetahuan dan pengalaman menjadi kearifan, kesabaran dan kasih sayang untuk menjadi dewasa, yang pada saatnya di harapkan dapat melengkapi kehidupan bangsa pemetik itu menjadi mandiri, agar tidak hidup dalam ketergantungan oleh sumbangan dan belas kasihan belaka” (Ani Sekarningsih, Teweraut, YOI, Jakarta, 2000, hal 294).


Vony Ponolia
081374403496



Komentar

Anonim mengatakan…
Minta-minta, makin banyak aja. Ketahuan di kampung saya ada yang sudah punya sawah 3 hektar (serius) dari hasil kerjanya di jakarta sebagai pengemis. Hati-hati kawan. Sabarlah menghadapi penipuan dalam kehidupan.

Btw, bannernya saya gak ganti akh. Udah sangat perfect bannernya hehehe. Banner situ simple dan bagus kok. Cocok sama template saya. gak apa2 kan?
Anonim mengatakan…
Minta2 ga deh.......! maluuuu...

kepepet baru kaga, wkwkwkkwkw

menurut pepatah tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah :D

Postingan populer dari blog ini

EKONOMI DAN KEBUDAYAAN EKONOMI PERSONALISME

Antropologi ekonomi personalisme dapat dibagi atas tiga kelompok. Pertama, kelompok ekonomi personalisme Szanton, Davis dan Dewey. Kedua, ekonomi moral dari Scott dan ekonomi politik dari Popkin yang dikembangkan sebagai kritik terhadap ekonomi moral Scott. Ketiga, antropologi ekonomi pos-modernis dari Scott (1985-1990), yang ia kembangkan dari ketidak puasannya atas studi-studi yang pernah dibuatnya di waktu lalu. Pada dasarnya ketiga kelompok aliran tersebut memiliki persamaan yang memberikan ciri khas pada antropologi ekonomi personalisme. Ciri pertama ekonomi personalisme adalah penekanannya yang kuat pada pembahasan mengenai pertukaran sosial yang sumber ajarannya datang dari antropologi sosial Inggris. Dimana dari antropologi Inggrislah lahirnya berbagai teori tentang pertukaran sosial dan semacamnya yang merupakan pondasi dari antropologi ekonomi. Ciri yang kedua yaitu dikotomi pemikiran formalis dan substantif yang tetap digunakan dalam analisanya namun lebih mendalam dan me...

ANTARA HATI, PIKIRAN, DAN KEINGINAN (Bagian II)

Beribu karya telah tercipta dari tangan-tangan manusia. Entah dari mana datangnya, berbagai inspirasi terus bermunculan, seakan alam tak pernah berhenti memperlihatkan sesuatu yang baru pada kita. Manusia-manusia kreatif tidak hanya menyimpan inspirasi-inspirasi tersebut dalam otak mereka. Mereka akan melahirkannya dalam berbagai bentuk karya cipta. Puisi, musik, lukisan, cerita dalam kertas, benda dan lain sebagainya. Kata orang bakat manusia telah ditentukan jauh sebelum ia dilahirkan. Bagaimana kalau bakat itu menuntut manusia untuk terus berkarya, sementara inspirasi berhenti muncul di kelopak mata, apa yang akan dilakukan manusia ?. “Cobalah berhenti sejenak dan lakukan hal yang lain”. Malam itu Boy, Popon, dan Uncu tengah duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi dan indahnya purnama 14. Boy mencoba memberikan masukannya. “Sudah berapa banyak lukisan yang telah engkau buat ?”. Popon bertanya pada sahabatnya Boy. Boy tidak menyebutkan angka pasti. “Sejak Kelas 2 SMP”. ...

Tanah (Pola Pewarisan di Minangkabau)

Tulisan ini berawal dari pertanyaan seorang teman yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta jurusan Notariat. Ketika itu datang ke Padang dan bertanya pada pada penulis tentang hukum waris di Minangkabau (khususnya masalah tanah). Beberapa hari kemudian seorang teman penulis yang bekerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar terkemuka di kota Padang mengajak penulis untuk berdiskusi seputar permasalahan tanah di kota Padang, katanya ia mendapat tugas dari kantor untuk meliput beberapa berita seputar permasalahan tanah. Dua kejadian ini akhirnya membawa penulis untuk membuat tulisan ini. Tulisan ini kalau penulis boleh bilang lebih mengarah pada masalah sistem pewarisan tanah di Minangkabau. Sejak Gunung Marapi sebesar telur itik, sampai telur itik sebesar Gunung Marapi, pada dasarnya masalah pewarisan tanah telah di atur sedemikian rupa. Tujuannya jelas agar tidak ada permasalahan yang timbul di kemudian hari antara anak dan kemenakan. Aturan adat ini adalah “dari ...