Langsung ke konten utama

ANTROPOLOGI PSK

Pengantar
Sebuah fenomena yang terus berkembang dan tak pernah terselesaikan dari masa ke masa dari suatu negeri ke negeri yang lainnya dari sebuah ruang dan waktu, ada yang bilang ini adalah pekerjaan yang seharusnya tidak ada dan ada yang mengatakan mungkin itu jalan terakhir yang harus ditempuh. Fenomena itu adalah wanita panggilan/ perek/ pelacur dan masih banyak lagi sebutan lain untuk pekerjaan itu yang pada perkembangan selanjutnya dihaluskan menjadi wanita tuna susila dan diperhalus lagi menjadi Pekerja Sexs Komeresil (PSK).
Kebudayaan adalah tenunan makna, dan dengan tenunan itu manusia menafsirkan pengalaman mereka dan mengarahkan tindakan mereka (Geertz,1993;74). Bertolak dari defenisi diatas dapat kita lihat bagaimana PSK mencoba menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Perkembangan PSK dari masa ke masa
PSK Pada masa kerajaan / tradisional
Pada zaman kerajaan dapat kita temukan selir, dimana mereka disahkan oleh pihak kerajaan bahkan itu merupakan sebuah pertanda bagi seorang raja bahwa ia sangat dihormati dan disayangi oleh rakyatnya walaupun pada akhirnya itu mengakibatkan perpecahan dalam kerajaan sendiri dan akhirnya dilarang dan dikeluarkan sebuah keputusan raja hanya boleh berhubungan dengan istrinya yang sah atau yang telah ia nikahi.
Seiring dengan perkembangan zaman dan selir itu berobah menjadi Pelacur dan tugasnya tidak hanya melayani para raja dan petinggi kerajaan tetapi juga orang banyak dimana mereka mulai teroganisir dalam sebuah tempat yang dinamakan rumah bordil. Mereka memiliki cukong dan bekerja berdasarkan perintah seorang cukong, dengan bayaran yang ditentukan oleh cukong itu sendiri karena yang mengkonsumsi pelacur ini layaknya sebuah obat yang membuat seseorang ketagihan sehingga terjadi konflik di dalam masyarakat baik antara konsumen sampai pada konflik keluarga dan akhirnya praktek yang seperti itu dihapuskan dan dilarang oleh pihak kerajaan sehingga berbagai rumah bordir ditutup dan dinyatakan ilegal. Dengan dinyatakan ilegal maka para wanita penghibur itu agar dapat bertahan dan tetap menjadi salah satu kebutuhan laki-laki, mereka membuka warung misalnya warung kopi dan mereka akhirnya dapat terus beroperasi walau dengan sangat extra hati-hati agar tidak terbongkar apa yang sebenarnya mereka perdagangkan, walaupun pintarnya mereka menyamarkan tujuan mereka namun kontrol masyarakat tetap ada dan terus mengawasi.



Zaman Pencerahan dan Zaman Victoria
Mungkin sedikit berbeda dengan masa kerajaan, pada zaman pencerahan tidak ada yang menjadi selir yang ada hanya wanita penghibur pada masa itu wanita penghibur memiliki status sosial dalam masyarakatnya mereka diakui keberadaannya. Bahkan pada saat-saat tertentu mereka memegang peranan penting dalam berhasilnya sebuah daerah mengembangkan daerah kekuasaan mereka. Proses adaptasinya disini kami jelaskan dengan zaman pencerahan, dimana para wanita penghibur dipekerjakan untuk menjadi pemuas hasrat para petinggi negara, mereka tinggal dirumah mereka selayaknya masyarakat lainnya. Dan yang uniknya pada masa itu wanita penghibur merupakan keturunan dan setiap orang tua mempersiapkan anak-anak mereka untuk menjadi wanita penghibur yang propesional, membekali anak-anaknya dengan pengetahuan bagaimana menjadi wanita penghibur yang hebat dan ilmu pengetahuan lainnya politik bahkan psikologi.
Setiap para petinggi butuh, mereka tinggal pergi kesana atau meminta para wanita penghibur tersebut untuk datang kerumah mereka. Namun hal ini tak berlansung lama, masyarakat banyak yang memiliki uangpun akhirnya mengikuti pola hidup para petinggi mereka, mereka mulai mengkonsumsi wanita penghibur sebagai salah satu kebutuhan mereka. Sama halnya pada masa kerajaan, hal ini mengakibatkan berbagai konflik dalam masyarakat itu sendiri dan pada akhirnya ditentang dan dibubarkan oleh mereka sendiri. Namun fenomena ini terus berlanjut layaknya bom waktu yang dapat meledak kapan saja dan dibagian bumi mana saja.
Zaman modern
Pada saat sekarang PSK bukan sekedar pedagang yang mengandalkan barang bagus yang menarik pembeli, PSK sudah mulai mempelajari bagaimana situasi, kondisi mereka sendiri dan juga mulai mencari celah untuk menjadikan barang dagangan mereka tetap dibutuhkan konsumen. Mereka mulai mempelajari psikologis konsumen dan bekerja propesional (layaknya produsen yang mempelajari kebutuhan konsumennya). Waktu terus berjalan dan permintaan pasar mulai berobah, barang bagus harga standar. PSK tidak hanya digeluti oleh pemain lama yang hanya mengantungkan hidup dari itu saja , berbagai orang dari berbagai profesi juga mulai mengeluti pekerjaan ini, seperti yang diberitakan oleh tabloid Genta Andalas terbitan Unand yang memberitakan bahwa ada mahasiswa yang juga terlibat dalam dunia PSK ini. Dari berita itu dapat kita lihat bahwa mahasiswi juga mulai bergelut dalam dunia seperti itu.
Dari ilustrasi dan data diatas dapat kita lihat para PSK zaman sekarang mempelajari kembali sejarah mereka dan mengadopsi cara-cara lama yang pernah jaya pada masa lalu. Dan dari data diatas juga terasa sekali kontrol masyarakat mulai kehilangan arah karena PSK mulai membentuk pola-pola baru dan sulit untuk dijangkau oleh kontrol sosial masyarakat.

VONY PONOLIA
081374403496

Komentar

obat tradisional mengatakan…
manatp gan infonya
xamthone plus mengatakan…
makasih infonya gan

Postingan populer dari blog ini

AMBIGUITAS VS KREATIFITAS

(Surat Untuk Generasiku) Banyak hal baru disekitar kita dan kebanyakan dari kita kadang kurang peka dengan berbagai hal baru tersebut. Kebanyakan dari kita hanya tahu hal itu telah terjadi begitu saja atau benda ini begini cara kerjanya. Jarang kita mencari tahu kenapa bisa demikian. Pengkonsumsian besar-besaran terhadap suatu produk tanpa berpikir apa yang melatar belakangi semua fenomena tersebut. Jarang kita berfikir kenapa gelas itu bentuknya seperti itu, dari mana sang penciptanya mendapatkan ide sehingga ia menciptakannya berbentuk seperti itu. Seorang perancang busana dan aksesoris dari Francis dalam sebuah wawancaranya yang ditayangkan oleh salah satu TV nasional mengatakan : “aku menciptakan sebuah rancangan, pada dasarnya berangkat dari dalam diriku sendiri, aku merancang sesuatu yang nyaman bagi diriku, dan aku yakin kenyamanan yang aku rasakan, setidaknya akan dapat dirasakan oleh mereka yang memakai hasil rancanganku”. Sedangkan kita disini berfikir bagaimana cara mendapat...

Alumni Antropologi Bukan Seorang Antropolog, Tanya Kenapa ?

Setiap memulai sesuatu yang baru kita akan selalu dihadapkan pada suatu masalah, baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri. Begitu juga dalam memulai sebuah penelitian, baik itu yang dilakukan di dalam ruangan maupun yang dijalani dilapangan. Dalam dunia antroplogi keluar masuk suatu kampung merupakan hal yang lumrah dan telah menjadi kebiasaan. Pindah dari satu desa ke desa yang lain atau satu nagari ke nagari yang lain adalah pekerjaan pokok yang harus dijalani. Tidak ada dalam kamus antropologi seorang antropolog duduk dibelakang meja dan berbicara tentang suatu tempat, tentu saja itu suatu yang sangat memalukan sekali (bagi mereka yang mengaku seorang antropolog). Namun pada perkembangannya dan kenyataannya pada saat sekarang, kecendrungan para antroplog muda Indonesia lebih menyukai cara penelitian dibelakang meja ini. Kegamangan memasuki lapangan penelitian menjadi momok yang menakutkan bagi mereka. Banyak faktor yang membentuk dunia baru cara penelitian antr...

ANTARA HATI, PIKIRAN, DAN KEINGINAN (Bagian II)

Beribu karya telah tercipta dari tangan-tangan manusia. Entah dari mana datangnya, berbagai inspirasi terus bermunculan, seakan alam tak pernah berhenti memperlihatkan sesuatu yang baru pada kita. Manusia-manusia kreatif tidak hanya menyimpan inspirasi-inspirasi tersebut dalam otak mereka. Mereka akan melahirkannya dalam berbagai bentuk karya cipta. Puisi, musik, lukisan, cerita dalam kertas, benda dan lain sebagainya. Kata orang bakat manusia telah ditentukan jauh sebelum ia dilahirkan. Bagaimana kalau bakat itu menuntut manusia untuk terus berkarya, sementara inspirasi berhenti muncul di kelopak mata, apa yang akan dilakukan manusia ?. “Cobalah berhenti sejenak dan lakukan hal yang lain”. Malam itu Boy, Popon, dan Uncu tengah duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi dan indahnya purnama 14. Boy mencoba memberikan masukannya. “Sudah berapa banyak lukisan yang telah engkau buat ?”. Popon bertanya pada sahabatnya Boy. Boy tidak menyebutkan angka pasti. “Sejak Kelas 2 SMP”. ...